Direksia.com — Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda kembali mengalami erupsi pada Kamis (8/10/2026). Aktivitas vulkanik tersebut terpantau pada sore hari ketika gunung api tersebut masih berstatus Level II atau Waspada.
Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung yang dikutip Media Indonesia, erupsi terjadi pada pukul 18.28 WIB. Hingga pukul 18.41 WIB, aktivitas erupsi masih dilaporkan berlangsung.
Tinggi kolom letusan belum dapat diamati. Kondisi visual erupsi maupun arah sebaran abu vulkanik juga belum terpantau secara jelas dari pos pengamatan.
Status Gunung Anak Krakatau Masih Level II
Gunung Anak Krakatau saat ini berada pada Level II atau Waspada. Status tersebut ditetapkan Badan Geologi setelah aktivitas vulkanik menunjukkan kecenderungan menurun dibandingkan periode sebelumnya.
Badan Geologi menurunkan status Gunung Anak Krakatau dari Level III atau Siaga menjadi Level II atau Waspada pada 21 September 2026. Penurunan status dilakukan setelah aktivitas vulkanik dan data deformasi menunjukkan kecenderungan penurunan atau deflasi.
Meski status telah diturunkan, Badan Geologi tetap menegaskan bahwa aktivitas Gunung Anak Krakatau masih perlu dipantau. Masyarakat dan wisatawan juga tidak diperbolehkan melakukan aktivitas dalam radius 2 kilometer dari pusat aktivitas gunung api.
Aktivitas Vulkanik Meningkat Sejak Juli
Gunung Anak Krakatau kembali memasuki periode aktivitas erupsi sejak 2 Juli 2026 setelah sebelumnya mengalami jeda erupsi. Pada periode peningkatan aktivitas tersebut, Badan Geologi mencatat sebanyak 224 kali erupsi hingga 3 September 2026.
Aktivitas kemudian meningkat dengan terjadinya erupsi menerus selama sekitar 25 jam, mulai 4 September pukul 23.07 WIB hingga 6 September 2026 pukul 00.04 WIB.
Berdasarkan pemantauan citra satelit, erupsi menerus tersebut menghasilkan aliran lava yang bergerak ke arah barat laut, barat, dan barat daya dari pusat erupsi. Setelah periode tersebut, aktivitas gunung api menunjukkan kecenderungan menurun hingga 20 September.
Namun, aktivitas vulkanik tidak sepenuhnya berhenti. Kembalinya erupsi menunjukkan bahwa dinamika sistem vulkanik Anak Krakatau masih berlangsung dan memerlukan pemantauan secara berkala.
Daratan Anak Krakatau Terus Mengalami Perubahan
Aktivitas erupsi dalam beberapa bulan terakhir juga mengubah bentuk fisik Gunung Anak Krakatau. Reuters melaporkan bahwa aliran lava dari aktivitas erupsi terbaru telah memperluas daratan gunung api sekitar 32,8 hektare.
Citra satelit juga menunjukkan kemunculan dua formasi daratan baru di sekitar gunung api. Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas vulkanik tidak hanya menghasilkan material erupsi, tetapi juga dapat mengubah morfologi kawasan Anak Krakatau.
Perubahan bentuk gunung api menjadi salah satu alasan pentingnya pemantauan terus-menerus terhadap kawasan Selat Sunda. Namun, perubahan morfologi tersebut tidak secara otomatis menunjukkan adanya ancaman tsunami.
Masyarakat Diminta Patuhi Batas Aman
Dengan kembali terjadinya erupsi, masyarakat dan wisatawan diminta tidak mendekati Gunung Anak Krakatau serta mematuhi rekomendasi keselamatan yang dikeluarkan pemerintah.
Pada status Level II, masyarakat dilarang melakukan aktivitas dalam radius 2 kilometer dari pusat aktivitas gunung api. Badan Geologi juga mengingatkan adanya potensi lontaran batu pijar dan hujan abu lebat.
Masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung diimbau tetap tenang serta tidak mudah mempercayai informasi mengenai Gunung Anak Krakatau yang belum terverifikasi. Informasi mengenai perkembangan aktivitas gunung api sebaiknya diperoleh melalui kanal resmi Badan Geologi, PVMBG, MAGMA Indonesia, BPBD, dan pemerintah daerah.
Sumber berita: Media Indonesia, Badan Geologi Kementerian ESDM/PVMBG, Reuters.
