Direksia.com — Perum Bulog mempercepat produksi dan penyaluran beras premium dengan target mencapai 300 ribu ton hingga Desember 2026. Langkah ini dilakukan untuk merespons kenaikan harga beras di pasaran sekaligus memperkuat pasokan bagi masyarakat menjelang akhir tahun.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengatakan perusahaan mendapat arahan dari Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman untuk meningkatkan ketersediaan beras premium. Berdasarkan pemantauan pemerintah, kenaikan harga terutama terjadi pada beras kualitas premium.
Hingga Jumat (9/10/2026), Bulog telah memproduksi sekitar 71 ribu hingga 72 ribu ton beras premium. Perusahaan terus mempercepat pengolahan beras komersial dengan melibatkan mitra penggilingan dan pelaku usaha di berbagai daerah.
Harga Gabah Tinggi Menekan Harga Beras
Kenaikan harga beras tidak terlepas dari tingginya harga gabah di tingkat petani serta terbatasnya panen pada September hingga Oktober 2026. Kondisi tersebut memengaruhi biaya bahan baku dan proses produksi beras yang dipasarkan kepada konsumen.
Bulog mengungkapkan harga gabah di sejumlah daerah telah mencapai Rp8.000 hingga Rp9.000 per kilogram. Angka tersebut berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram yang menjadi salah satu acuan dalam kebijakan penyerapan gabah.
Tingginya harga gabah membuat biaya pengadaan bahan baku meningkat. Kondisi ini menjadi tantangan bagi Bulog untuk menyediakan beras premium dalam jumlah besar dengan harga yang tetap terjangkau.
Di sisi lain, kenaikan harga juga perlu diantisipasi karena beras merupakan kebutuhan pokok utama masyarakat Indonesia. Perubahan harga komoditas ini dapat memengaruhi pengeluaran rumah tangga, terutama kelompok masyarakat berpendapatan rendah.
Beras Premium Bulog Mulai Masuk Ritel Modern
Untuk memperluas ketersediaan di pasar, Bulog menggandeng mitra di berbagai wilayah Indonesia dalam pengolahan beras komersial menjadi beras premium. Produk tersebut dipasarkan melalui sejumlah merek, antara lain Befood, Punokawan, dan Setra Ramos.
Bulog juga berupaya memperkuat distribusi agar pasokan tidak hanya tersedia di gudang atau pasar induk, tetapi dapat dijangkau konsumen melalui jaringan ritel modern dan pasar lainnya.
Peningkatan pasokan diharapkan dapat memperbesar pilihan produk bagi konsumen serta membantu meredam tekanan harga. Namun, efektivitas langkah tersebut bergantung pada kecepatan distribusi, biaya produksi, dan kesesuaian harga jual dengan daya beli masyarakat.
Bulog optimistis penambahan pasokan hingga 300 ribu ton dapat membantu menstabilkan harga menjelang akhir tahun. Perusahaan juga mendorong keterlibatan mitra usaha agar pengolahan dan penyaluran beras dapat dilakukan lebih luas.
Kenaikan Harga Masih Terjadi di Sejumlah Daerah
Tekanan harga beras masih terlihat di berbagai wilayah. Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip dalam pemberitaan ekonomi menunjukkan bahwa hingga pekan pertama Oktober 2026, sebanyak 116 kabupaten/kota mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) beras dari berbagai kualitas.
Secara nasional, harga rata-rata beras medium pada pemantauan pekan pertama Oktober tercatat naik 0,16 persen dibandingkan September menjadi Rp14.676 per kilogram. Sementara itu, harga rata-rata beras premium meningkat 0,13 persen menjadi Rp16.525 per kilogram.
Data tersebut memperlihatkan bahwa tekanan harga masih perlu diwaspadai, meskipun besaran kenaikan berbeda menurut wilayah dan kualitas beras.
Ke depan, keberhasilan program Bulog tidak hanya ditentukan oleh pencapaian target produksi, tetapi juga oleh kemampuan menyalurkan beras secara merata dan menjaga harga jual tetap sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pemerintah perlu terus memantau perkembangan harga, pasokan, serta biaya distribusi agar intervensi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Dengan target 300 ribu ton hingga Desember 2026, Bulog berharap pasokan beras premium semakin kuat dan gejolak harga dapat dikendalikan. Perkembangan harga dalam beberapa pekan mendatang akan menjadi indikator penting untuk menilai efektivitas langkah tersebut.
(Direksia)
SUmber: CNN, Bisnis.com
