Direksia.com — Harga Bitcoin (BTC) kembali mengalami tekanan pada perdagangan Rabu (7/10/2026). Aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar tersebut turun sekitar 1,5% dan sempat bergerak di bawah level US$84.000.
Mengacu pada data pasar yang dikutip CoinDesk, Bitcoin sempat turun hingga sekitar US$83.840 setelah sebelumnya diperdagangkan di kisaran US$86.600. Pada perdagangan selanjutnya, BTC berada di sekitar US$84.200.
Pelemahan Bitcoin terjadi di tengah meningkatnya harga minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Harga minyak Brent kembali menembus US$100 per barel, sementara imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun berada di sekitar 5,31%.
Kondisi tersebut turut mendorong penguatan dolar AS dan menekan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk aset kripto. Reuters mencatat Bitcoin turun sekitar 1,6% menjadi US$84.255, sementara Ethereum melemah 2,9% menjadi sekitar US$2.621.
Tekanan juga terlihat pada sejumlah aset kripto utama lainnya. Dogecoin mencatat penurunan sekitar 5%, Ethereum turun lebih dari 3%, sedangkan Solana melemah hampir 2,5%.
Pasar Menanti Arah Kebijakan The Fed
Pelaku pasar kini mencermati risalah rapat Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat yang dijadwalkan dirilis Rabu. Risalah tersebut diharapkan memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga bank sentral AS selanjutnya.
Suku bunga dan imbal hasil obligasi menjadi perhatian penting bagi pasar kripto karena kenaikan imbal hasil dapat mengurangi daya tarik aset berisiko. Sebaliknya, sinyal kebijakan moneter yang lebih longgar berpotensi memberikan ruang bagi aset seperti Bitcoin untuk kembali menguat.
Selain faktor kebijakan moneter, perkembangan geopolitik dan kenaikan harga energi juga menjadi perhatian investor. Ketegangan di Timur Tengah mendorong harga minyak lebih tinggi dan meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi.
Secara teknikal, level US$84.000 menjadi perhatian pasar. CoinDesk mengutip FxPro yang menilai penurunan berkelanjutan di bawah US$83.000 dapat memperkuat tekanan jual dan membuka peluang Bitcoin bergerak menuju US$80.000.
Meski demikian, arah Bitcoin selanjutnya masih akan sangat bergantung pada perkembangan pasar global, kebijakan The Fed, pergerakan dolar AS, harga minyak, serta arus dana pada produk investasi berbasis Bitcoin.
Catatan: Harga aset kripto bergerak sangat cepat. Data harga dalam artikel ini merupakan kondisi pasar pada waktu publikasi dan dapat berubah sewaktu-waktu.
