Direksia.com — Nama Liang Wenfeng semakin menjadi sorotan dunia seiring pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di China. Pendiri perusahaan AI DeepSeek tersebut diperkirakan memiliki kekayaan sekitar US$40 miliar atau setara Rp715 triliun. Kekayaan itu menjadikannya salah satu tokoh teknologi paling berpengaruh dalam persaingan AI global.
Liang dikenal sebagai sosok yang relatif tertutup dibandingkan sejumlah pemimpin perusahaan teknologi dunia. Namun, pendekatannya dalam mengembangkan AI berhasil menarik perhatian industri setelah DeepSeek memperkenalkan model kecerdasan buatan yang mampu bersaing dengan produk perusahaan Amerika Serikat.
Berdasarkan profil Forbes yang diperbarui pada Oktober 2026, kekayaan Liang diperkirakan mencapai US$40 miliar. Angka tersebut merupakan estimasi kekayaan bersih, bukan jumlah uang tunai yang seluruhnya tersimpan di rekening pribadinya. Nilainya dapat berubah mengikuti valuasi perusahaan dan perkembangan pasar.
Berawal dari Kecintaan terhadap Matematika
Liang Wenfeng lahir pada 1985 di Provinsi Guangdong, China. Ia menempuh pendidikan di Zhejiang University dan mempelajari bidang teknik informasi dan komunikasi. Latar belakang akademiknya membentuk kemampuan analitis yang kemudian menjadi bekal penting dalam dunia investasi kuantitatif dan pengembangan teknologi.
Berbeda dari sejumlah pendiri perusahaan teknologi yang membangun bisnis melalui aplikasi konsumen, Liang lebih dahulu berkarier di bidang keuangan. Ia tertarik memanfaatkan matematika, statistik, dan algoritma untuk menganalisis pergerakan pasar serta mengambil keputusan investasi.
Pada 2015, Liang bersama rekan-rekannya mendirikan High-Flyer, perusahaan pengelola investasi yang menggunakan pendekatan kuantitatif. Perusahaan tersebut memanfaatkan teknologi komputasi dan model matematis untuk mengembangkan strategi perdagangan di pasar keuangan.
Pengalaman tersebut menjadi fondasi bagi perjalanan Liang menuju industri kecerdasan buatan. Investasi pada infrastruktur komputasi dan riset AI kemudian membuka jalan bagi lahirnya DeepSeek.
Mendirikan DeepSeek dan Mengguncang Industri AI
Liang mendirikan DeepSeek pada 2023 di Hangzhou, China. Perusahaan tersebut berfokus pada penelitian dan pengembangan model kecerdasan buatan yang mampu memahami bahasa, menghasilkan teks, membantu pemrograman, dan menyelesaikan berbagai persoalan kompleks.
DeepSeek mendapatkan perhatian internasional pada awal 2025 setelah memperkenalkan model AI yang diklaim memiliki kemampuan kompetitif dengan sejumlah produk terkemuka dunia, tetapi dapat dikembangkan dengan pendekatan biaya yang lebih efisien.
Kehadiran DeepSeek memicu diskusi luas mengenai biaya pengembangan AI canggih dan kebutuhan investasi komputasi yang sangat besar. Perkembangan tersebut juga meningkatkan perhatian terhadap kemampuan perusahaan China dalam membangun teknologi AI di tengah persaingan dengan Amerika Serikat dan keterbatasan akses terhadap sejumlah teknologi semikonduktor canggih.
Salah satu faktor yang mendukung perjalanan DeepSeek adalah pengalaman High-Flyer dalam membangun infrastruktur komputasi. Infrastruktur tersebut membantu menyediakan sumber daya untuk menjalankan eksperimen dan melatih model AI.
Kekayaan Berasal dari Kepemilikan Perusahaan
Sebagian besar kekayaan Liang diperkirakan berkaitan dengan kepemilikannya di DeepSeek dan bisnis investasi yang dibangunnya. Karena itu, perubahan nilai perusahaan dapat berdampak besar terhadap estimasi kekayaan pribadinya.
Forbes mencatat kekayaan Liang sekitar US$40 miliar pada 10 Oktober 2026. Sementara itu, Bloomberg Billionaires Index pada Juli 2026 memperkirakan kekayaannya sekitar US$36 miliar setelah DeepSeek memperoleh pendanaan baru dengan valuasi perusahaan yang meningkat.
Perbedaan angka tersebut menunjukkan bahwa kekayaan miliarder teknologi tidak selalu bersifat tetap. Estimasi dapat berbeda karena waktu penghitungan, metode penilaian, nilai kepemilikan, dan asumsi terhadap valuasi perusahaan yang belum tercatat di bursa.
Dengan demikian, angka Rp715 triliun perlu dipahami sebagai perkiraan nilai kekayaan, bukan pendapatan tahunan atau jumlah uang tunai yang dimiliki Liang.
Tantangan DeepSeek di Tengah Persaingan Global
Keberhasilan DeepSeek tidak membuat persaingan menjadi lebih mudah. Perusahaan tersebut masih harus meningkatkan kemampuan model AI, mempertahankan efisiensi biaya, memperluas penggunaan produknya, dan menghadapi persaingan dari perusahaan teknologi China maupun Amerika Serikat.
Kebutuhan komputasi, pengembangan talenta, keamanan sistem, serta pembatasan teknologi lintas negara juga menjadi tantangan bagi industri AI.
Perjalanan Liang Wenfeng memperlihatkan bagaimana perpaduan kemampuan matematika, pengalaman investasi, dan strategi pengembangan teknologi dapat menghasilkan perusahaan yang diperhitungkan secara global. Dari dunia investasi kuantitatif, ia kini menjadi salah satu tokoh penting dalam persaingan kecerdasan buatan.
Bagi industri teknologi, kisah Liang bukan hanya tentang kekayaan fantastis, tetapi juga tentang bagaimana investasi jangka panjang pada riset dan infrastruktur dapat menciptakan pemain baru yang mengubah peta persaingan AI dunia.
Sumber berita: Forber, The Straits Times, Reuters, CNN Indonesia
