Direksia.com — Penggunaan rokok elektrik atau vape yang kerap dianggap lebih aman daripada rokok konvensional kembali menjadi sorotan. Studi awal Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan bahwa aerosol vape berpotensi menimbulkan efek toksik pada sel pankreas dan mengganggu sekresi insulin, mekanisme penting dalam pengaturan kadar gula darah.
Temuan tersebut menjadi peringatan bagi masyarakat, terutama anak muda yang mulai menggunakan vape tanpa sepenuhnya memahami kemungkinan dampak kesehatan dalam jangka panjang. Meski demikian, peneliti menegaskan bahwa hasil penelitian awal ini belum membuktikan secara langsung bahwa vape menyebabkan diabetes pada manusia.
Penelitian BRIN Menguji 13 Sampel Cairan Vape
Dalam penelitian awalnya, BRIN menguji 13 sampel cairan vape dari berbagai merek dan rasa. Penelitian dilakukan secara in vitro, yakni melalui pengujian pada kultur sel di laboratorium, untuk mempelajari pengaruh aerosol vape terhadap sel paru-paru dan sel pankreas.
Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN, Ni Luh Putu Indi Dharmayanti, menjelaskan bahwa cairan vape umumnya mengandung propilen glikol dan gliserin sebagai pelarut, serta dapat ditambahkan nikotin dan berbagai bahan perasa.
Ketika cairan tersebut dipanaskan, prosesnya tidak hanya menghasilkan aerosol, tetapi juga dapat memicu perubahan kimia yang menghasilkan senyawa lain. Karena itu, penilaian risiko vape tidak cukup hanya melihat komposisi cairan sebelum dipanaskan, tetapi juga perlu menguji zat yang benar-benar terhirup oleh pengguna.
Pada pengujian sel paru-paru, sebanyak 92% sampel menunjukkan efek toksik terhadap sel. Sebanyak 78% sampel juga meningkatkan TNF-α, yaitu penanda yang berkaitan dengan respons peradangan.
Temuan ini menunjukkan adanya potensi kerusakan sel dan peradangan akibat paparan aerosol dari produk yang diuji.
Sel Pankreas Berpotensi Mengalami Gangguan
Penelitian kemudian mengamati dampak aerosol vape terhadap sel beta pankreas menggunakan model sel MIN6 dari tikus. Sel beta pankreas berperan menghasilkan dan melepaskan insulin, hormon yang membantu tubuh mengatur kadar gula darah.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa 69% sampel memberikan efek toksik pada sel pankreas. Efek tersebut disertai penurunan produksi insulin sekitar 20%. Seluruh sampel yang diuji juga menunjukkan penekanan sekresi insulin.
Apabila fungsi sel beta pankreas terganggu, kemampuan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan gula darah dapat ikut terpengaruh. Namun, temuan laboratorium ini belum dapat disamakan dengan kejadian diabetes pada manusia karena tubuh memiliki sistem biologis yang jauh lebih kompleks.
BRIN menilai hasil tersebut sebagai petunjuk awal yang perlu ditindaklanjuti melalui penelitian lebih mendalam, termasuk pengujian paparan berulang, hubungan dosis dan respons, serta analisis senyawa yang terbentuk ketika cairan vape dipanaskan.
Mengapa Dampaknya Bisa Baru Terlihat Bertahun-tahun Kemudian?
Guru Besar Bidang Ilmu Endokrin, Metabolik, dan Diabetes Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Em Yunir, menjelaskan bahwa diabetes merupakan penyakit multifaktorial. Risiko seseorang dipengaruhi berbagai hal, antara lain faktor genetik, usia, berat badan, pola makan, aktivitas fisik, stres, serta kebiasaan merokok atau menggunakan vape.
Paparan zat kimia yang memicu peradangan secara berulang berpotensi memengaruhi fungsi jaringan tubuh. Sementara itu, nikotin dapat memengaruhi sensitivitas insulin dan pengaturan glukosa.
Dalam kondisi resistensi insulin, sel tubuh menjadi kurang responsif terhadap insulin. Pankreas kemudian harus bekerja lebih keras untuk membantu menjaga kadar gula darah tetap terkendali. Jika berlangsung lama dan kemampuan pankreas tidak lagi mencukupi, kadar gula darah dapat meningkat hingga memasuki kondisi pradiabetes atau diabetes tipe 2.
Mekanisme tersebut menjelaskan mengapa risiko metabolik perlu diperhatikan sejak usia muda. Tidak adanya keluhan saat ini bukan berarti paparan suatu zat pasti tidak menimbulkan dampak kesehatan pada masa mendatang.
Meski begitu, tidak tepat menyimpulkan bahwa setiap pengguna vape pasti akan mengalami diabetes. Hubungan sebab-akibatnya masih membutuhkan bukti penelitian lebih kuat.
Vape Bukan Produk Bebas Risiko
Selain potensi gangguan metabolisme, penggunaan vape juga menjadi perhatian karena dampaknya terhadap sistem pernapasan dan kardiovaskular. Kandungan nikotin dapat menyebabkan ketergantungan, sedangkan aerosol dan bahan kimia yang terbentuk selama pemanasan perlu dinilai berdasarkan karakteristik serta tingkat paparannya.
Pakar kesehatan juga mengingatkan bahwa anggapan vape sepenuhnya aman dapat membuat sebagian orang meremehkan risikonya. Menggunakan vape bersamaan dengan rokok konvensional juga bukan pilihan yang dapat dianggap menghilangkan bahaya kesehatan.
Karena itu, upaya pencegahan perlu dilakukan sebelum muncul gangguan kesehatan. Anak muda dan keluarga perlu mendapatkan informasi yang akurat tentang kandungan vape, potensi ketergantungan nikotin, serta kemungkinan dampak paparan jangka panjang.
Bagi orang yang khawatir terhadap risiko diabetes, pemeriksaan gula darah dan konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu menilai kondisi serta faktor risiko individual. Pemeriksaan tersebut tidak menggantikan langkah pencegahan, termasuk menghindari penggunaan vape dan rokok.
Studi awal BRIN menjadi dasar penting untuk memperluas penelitian mengenai dampak rokok elektrik. Namun, kesimpulan ilmiah harus tetap proporsional: temuan pada kultur sel menunjukkan adanya potensi bahaya yang perlu diteliti lebih lanjut, bukan bukti bahwa vape secara langsung menyebabkan diabetes pada setiap penggunanya.
Pesan utamanya jelas: jangan menunggu hingga gangguan kesehatan muncul untuk mulai memperhatikan risiko. Terutama bagi generasi muda, keputusan untuk tidak memulai atau berhenti menggunakan vape merupakan langkah preventif yang patut dipertimbangkan.
(Direksia)
Sumber berita: Kemenkes RI, BBC, Suara
